SAYA PERNAH DI HMI, TIDAK PERNAH DI KAHMI
Saya pernah ikut pelatihan kader HMI 30 tahun yang lalu. Hanya anggota biasa. Jujur, pada waktu itu saya terpaksa, lalu menjadi asyik-asyik saja seiring waktu. Di masa itu, mungkin sampai sekarang masih ada, di dalam kampus, dari mulut ke mulut disebar isu bernuansa teror (kalau tak mau dibilang intimidasi), "kalau bukan anggota HMI, tidak boleh menjadi pengurus/pimpinan di organisasi internal kampus (Senat, BPM, dan HMJ).
Dulu, mungkin sampai sekarang, pada diri seorang mahasiswa ada rasa bangga menjadi anggota HMI, karena menjadi bagian dari organisasi kemahasiswaan eksternal kampus terbesar di masa orde baru, mungkin sampai sekarang. Keren juga berorganisasi di HMI, meski anggota biasa, saya termasuk dari beberapa kawan yang mendorong lahirnya HMI MPO di Sulteng. Belum hilang dari ingatan, saya bersama sejumlah teman HMI sampai nekat naik Kapal Kerinci ke Jakarta untuk menikmati langsung perpecahan HMI DIPO dan HMI MPO.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 (bukan empat belas miliar) Rabiul Awal 1366 H bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947, atas prakarsa Lafran Pane beserta 14 (bukan empat belas miliar) orang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (sekarang Universitas Islam Indonesia).
Dulu (1946) ada organisasi kemahasiswaan bernama Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY). Lafran Pane yang waktu itu baru tingkat 1 merasa tidak nyaman dengan tidak tersalurnya kepentingan mahasiswa yang menjunjung nilai keislaman. Ketidaknyamanan itu mendorongnya memprakarsai terbentuknya HMI.
Di masa itu (1946), suasana politik di Indonesia mengalami polarisasi antara pihak Pemerintah (Partai Sosialis) pimpinan Syahrir-Amir Syarifuddin dengan pihak oposisi (Masyumi) pimpinan Soekiman-Wali Al-Fatah, PNI pimpinan Ki Sarmidi Mangunsarkoro-Suyono Hadinoto, serta Persatuan Pernyangannya Tan Malaka. Polarisasi ini merupakan implikasi dari dua arus pendirian yang bertentangan. Pihak Partai Sosialis (Pemerintah) bersikukuh dengan perjuangan diplomatik, sedangkan pihak oposisi berpegang pada perjuangan bersenjata melawan Belanda.
Nah ini yang asyik, Mahasiswa ikut dalam arus politik dan ikut terpolarisasi. Sebagian besar pengurus Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta tersedot oleh Partai Sosialis. Melalui elite pengurus yang sosialis ini, Partai Sosialis mendominasi Persyarikatan Mahasiswa Yogyakarta. Sebagian mahasiswa tidak rela diideologisasi oleh partai, tidak mau terkurung dalam penjara ideologi. Dalam kalimat lain, mahasiswa tidak mau jalin hubungan dengan Pemerintah yang memilih diplomasi.
Sementara di luar, Belanda makin agresif, lalu pada 21 Juli 1947 bule-bule ini melancarakan serangan bersenjata yang kita tahu dari buku sejarah di SMA berjudul Agresi Militer Belanda I. Mahasiswa dengan "ideologi ori-nya" memilih bersatu dengan para pejuang melawan Belanda.
Dalam situasi yang demikian itulah, HMI lahir dan bertumbuh. HMI berisi mahasiswa dengan mental pejuang yang tinggi. Bukan pejuang biasa, tetapi rela berhadapan dengan senjata Kompeni...!!!
Aktivis HMI yang ikut berjuang di garis keras melawan Belanda nyaris bubar karena desakan PKI dan CGMI pada tahun 1964-1965. Keteguhan kader-kadernya menjaga marwah HMI telah menyelamatkan HMI dan dapat bertahan dari berbagai gempuran di masa lampau.
Seiring waktu, HMI berkembang makin luas, kader-kader bermutu lahir satu persatu, alumninya makin banyak. Di kemudian hari para Alumni berinisiatif membentuk organisasi yang dapat menjadi sarana meneruskan perjuangan mencapai tujuan HMI, meski sudah pensiun. Bertepatan dengan Kongres ke-8 HMI di Surakarta pada tanggal 17 September 1966 dideklarasikan berdirinya Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam disingkat KAHMI.
Saya ceritakan sedikit sejarah yang memuat "jiwa hebat" nya HMI, yang membuat saya bangga pernah menjadi Anggota HMI. Karena saya tidak tergabung di KAHMI, maka HMI tinggallah kenangan bagi saya.
Di kemudian hari, saya sedikit terganggu, karena pentolan-pentolan HMI tersandung kasus memalukan yang mencoreng nama besar HMI sebagai salah satu garda perjuangan NKRI (melawan senjata kompeni Belanda).
Teman-teman FB mungkin masih ingat nama-nama Koruptor beken ini: Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Waode Nurhayati, dan Zulkarnaen Djabar. Akbar Tanjung pun mantan panglima Golkar, pernah terlibat kasus korupsi yang hanya bisa lolos karena siasat kelas kakap dan rekayasa tingkat tinggi. Ada juga Harry Azhar Aziz (pernah jabat Ketua Umum HMI), dia Ketua BPK yang namanya masuk dalam Panama Papers.
Betapa miris, suara HMI dan KAHMI tak nyaring sama sekali menindak anggotanya yang terlibat korupsi. Anehnya mereka sering marah-marah untuk sesuatu yang justru patut membuat marah seluruh kader HMI pun KAHMI.
Kalau urusan menjebloskan rekan-rekan se-HMI menjadi pejabat, penguasa, direksi perusahaan, tukar guling jabatan, pastilah HMI jagonya. Dengan segenap jiwa raga menjuangkan kader-kadernya. Giliran kader-kader cerdas ternama korupsi, eh .... diam seratus ribu bahasa...!!!!
KAHMI akan menyongsong MUNAS di SULTENG tentu disambut gembira oleh seluruh kader HMI, Alumni HMI, KAHMI dari penjuru tanah air yang berkepentingan terhadap jenis-jenis MUNAS dan KONGRES jelang PEMILU-PILKADA...!!! Ini momentum besar untuk menunjukkan kepada Bangsa Indonesia "KAHMI" Besar Banyak Bertumpah Ruah dan Berkuasa....!!!
Maka tidak heranlah saya, kalau KAHMI bisa dapat dana 14 Miliar lewat APBD, sekali lagi APBD....!!!! Wah luar biasa memang KAHMI.
Untuk anggota biasa di HMI seperti saya, hanya bisa mengenang perjuangan para pelopor HMI yang telah berpulang sebagai Pahlawan tak teregistrasi di Taman Makam Pahlawan.
Saya bayangkan kalau dana 14 Milliar jatuh ke organisasi petani, organisasi buruh, Ormas, OR yang masih setia di basis-basis perlawanan terhadap korporasi tambang dan perkebunan, mungkin Sulteng sudah bersih dari perusahan-perusahaan itu, dan rakyat sudah memiliki kembali tanah-tanah yang terampas.
Seandainya dana sebesar itu, dibagi dua saja, setengah untuk penyintas yang masih sengsara hidupnya, setengah untuk kemegahan Munas KAHMI, rasanya masih cukup. Apalagi kalau orang-orang kaya dan berkuasa yang ada di KAHMI patungan, bisa bergetar bumi Palu menyaingi megahnya guncangan 28 September 2018.
Saya bayangkan Megahnya Palu Namoni yang lenyap seketika berganti duka seluruh negeri...!!! Masih menyisakan derita dari saudara-saudara yang rumahnya tinggal reruntuhan.
Saya nelangsah... betapa pemimpin-pemimpin dan elite pemerintahan di Sulteng ini bebal dan keras kepala, tidak suka mendengar protes dan keluhan rakyat... memilih suara golongannya untuk sensasi seremoni berkedok politik.
Mungkin mereka menunggu teguran berikutnya dari Tuhan Penguasa Seluruh Alam....!!!
Source:

Comments
Post a Comment
Komen2x: